Mau bertanya Nggak Sesat di Jalan Part 2 Tag #AskBNI

Mau bertanya Nggak Sesat di Jalan Part 2 Tag #AskBNI. Judulnya bisa dibuat demikian karena ada tulisan awal saya di blog ini yang bisa anda baca kembali dengan judul Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan. Cerita ini terulang kembali waktu ada orang mengantar Undangan Pernikahan kerumah. Mengapa saya katakan ceritanya terulang kembali? Ini pengalaman beberapa tahun yang lalu dimana saya juga pernah mengantarkan undangan titipan keluarga khusus untuk dibagikan di kampung saya.

Mau tau ceritanya seperti apa ? Yuk..kita simak sama-sama
Karena ceritanya cukup lama, jadi saya lupa tahun berapa kejadiannya. Waktu itu saya diberi mandat oleh kerabat saya untuk mengantarkan undangan pernikahan putrinya (sepupu saya). Dari sekian banyak undangan yang diantar, saya memiliki seorang teman / kenalan yang akrab di panggil Ake. Saya cukup kenal bahkan sering kerumahnya yang berada di gang Pandai Besi (salah satu Jalan / Gang yang terletak di Jalan Buntok - Palangkaraya).

Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan

Hallo Blogger
Sebenarnya saya ini orangnya pemalu. Karena jiwa pemalu yang melekat pada diri saya sejak dari kecil, jadi lumayan sulit ketika ingin bertanya kepada siapapun. Alhasil ya seperti orang bilang "malu bertanya pasti akan sesat di jalan". Tetapi sekarang sudah tidak lagi karena saya belajar menjadi orang cuek, tapi tidak cuek dengan hal yang berbau sosial lho!. Intinya sekarang adalah ketika kita Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan.

Bercerita pengalaman tentang pentingnya bertanya, dari sekian banyak pengalaman yang pernah saya alami ada satu pengalaman yang menurut saya paling menggelitik hati. Sebelumnya mohon maaf karna waktu itu masih menggunakan handphone tanpa kamera, jadi tidak ada kronologi dalam bentuk gambar.
Ceritanya begini :
Waktu itu saya ikut berangkat bersama seorang teman ke Jakarta untuk menemaninya. Terus saya dibawa menginap di salah satu penginapan. Kalau tidak salah Mess Barsel atau Mess Pemda Barsel / Kalteng. Lokasinya kalau tidak salah di daerah Menteng. Tiba di Jakarta sore hari, dan karena macet sehingga tiba di penginapan sekitar jam setengah tujuh malam. Kata teman saya "kamu saya tinggal dulu, ada yang perlu saya urus. Besok pagi baru kita jalan-jalan".