Bung Penho : Kata-Kata Puitis di Hari Itu

Refresh sejenak mengisi waktu, duduk termenung di pembatas jembatan antar kampung sambil sesekali menghisap tembakau yang terbungkus rapi dengan kertas yang bertuliskan Sampoerna.

Namun tiba-tiba pandanganku mengarah pada satu sosok yang penuh dengan kekuatan namun wajah tetap terlihat sangat ramah mengayunkan langkahnya melewatiku. Sejenak ku tertegun, namun bukan karna senyuman atau gaya berjalannya tetapi mengarah pada satu benda yang ia pikul di atas bahunya.

Perahu atau Jukung dalam bahasa dayaknya. Itulah benda yang ia pikul dengan santai saat melewati diri ku yang sedang asyik duduk di pagar pembatas jembatan. Spontan ku raih telepon genggam di saku celana sebelah kiri seraya mengabadikan momen di hari itu.

Clek, begitulah bunyi nada photo telepon genggam saat ku sentuh tuts bertuliskan mengambil gambar. untuk mengabadikan penomena yang sangat jarang terjadi walaupun di kampung ku sendiri.

penomena kampung


Catatan : Hidup itu tak harus selalu berfikiran serius kawan, Salam Blogger!

Popular posts from this blog

Alergi Air Hujan

Mengapa Partai Politik yang ada di Indonesia begitu banyak?

Kamus Dayak Ma'anyan