Benarkah Kita Semua Telah Merdeka?

Sebagai manusia biasa yang menunjung tinggi Nasionalisme dan Cinta Terhadap Tanah Air dan Kampung tempat dimana saya mulai menghirup udara kehidupan yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, saya juga merasakan rasa sedih yang mendalam kepada sesama. Yap, akhirnya saya sempat menetaskan air mata ketika menonton salah satu acara milik stasiun televisi swasta Trans7.
Sebuah cerita mengenai orang pinggiran yang hidup bersama seorang isteri dan satu orang anak yang tinggal di sebuah gubuk, terbelit hutang untuk melunaskan pembelian tanah yang sekarang mereka tempati. Pekerjaan sehari-hari hanya menjajakan sapu ijuk dan topeng mainan yang dibuat sendiri dari kertas bekas. Penghasilan yang mereka peroleh paling banyak lima belas ribu dan kadang-kadang bahkan tidak memperoleh penghasilan dalam sehari.

Fikiran ku akhirnya melayang kepada para petinggi negeri ini. Hidup serba berkecukupan, menggunakan fasilitas mewah yang berasal dari dana APBN dan APBD, tempat tinggal yang megah dan penghasilan / gaji yang luar biasa besar. Tetapi masih saja tak pernah puas atau bahkan bersyukur atas apa yang mereka sudah peroleh. 
Mereka masih saja mencari kesempatan untuk melakukan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang tujuannya adalah untuk memerdekakan dirinya sendiri dan keluarganya. Sungguh, tak ada rasa malu sedikitpun. 

Semua telah lupa akan tujuan menjadi penguasa negara adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kedaulatan negara ini menjadi negara dan rakyatnya agar lebih sejahtera dari masa ke masa serta lebih bermartabat. Saat ini semuanya berusaha menguasai negara untuk merebut kedaulatan dan martabat Negara menjadi kedaulatan Pribadi dan kemerdekaan Pribadi.

Sekarang semuanya seperti Aku-Aku, Kamu-Kamu, Dia-Dia, Mereka-Mereka tak ada lagi Kita Semua.
Akhirnya semua orang pinggiran menuliskan kata dalam memperingati 67 tahun kemerdekaan yang telah kita lalu beberapa hari lalu dengan semboyan "Mereka", bukan lagi "Merdeka", karena menurut orang-orang pinggiran adalah "Hanya Merekalah Yang Merdeka".!


Komentar

Yuyud mengatakan…
Aduuh, sampe nangis ya jeng. ! :D. Untung aku gak liat tipi. Jadi gak ikut galau. Hehehe.
Rudy Arra mengatakan…
Terkadang kita memang harus melihat 'kebawah' agar kita senantiasa selalu bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang. Aahh semoga saja para pemimpin negeri ini juga dapat tergugah hatinya untuk melihat 'kebawah'. :)
Thanjawa Arif mengatakan…
dipikir-pikir mereka yang merdeka sendiri itu belum merdeka juga kok mbak, mereka belum merdeka dari nafsunya sendiri dari jerat godaan setan, karena memperkaya diri dan keluarga sendiri, dengan mengorbankan jiwa-jiwa yang seharusnya diayomi
Thanjawa Arif mengatakan…
maaf saya bang salah ketik, karena komentar di atas abang disebut mbak
Anak Rantau mengatakan…
Makanya nanti kalo dipilih jadi pemimpin jangan lupain kita yang orang pinggiran sob :D
Sang Cerpenis bercerita mengatakan…
merdeka beropini yg belum. hehee
Asep Haryono mengatakan…
Selama ini masih banyak ketimpangan di negeri ini, dan salah satunya adalah ketimpangan dalam memberikan kesejahteraan dan kemakmuran kepada rakyat. Jika belum makmur dan rakyat banyak yang masih terlantar, menurut hemat saya masih belum merdeka negeri ini.
Drieant mengatakan…
wah kalau ngurusin bangsa ini emang ga ada habisnya gan, para elit emang uda mati rasa dengan hal yang seperti ini. beda jaman nabi dulu, kalau petingginya ngerasa rakyatnya menderita, justru mereka dulu yang akan sedih, makanya mereka semua amanah. beda dengan sekarang, aji mumpun semua.
cak oni mengatakan…
kalo bicara tentang bangsa ini ya , ,tidak akan pernah ada habisnya kang , . .dengan masalah kemiskinan,korupsi dan lainnya
Fahmi Setiawan mengatakan…
Kalau merdeka engganya sih bagi gua pribadi, negara merdeka disaat negri tidak dijajah oleh penjajah orang luar, tetapi negara ini juga tidak merdeka disaat dijajah orang sendiri seperti Petinggi-petinggi di Indonesia, mereka menjajah negara nya sendiri dengan cara mengkorupsi dll.
agus bg mengatakan…
memang banyak acara televisi yang menayangkan acara model tersebut, ternyata sangat memprihatinkan... jika dilihat demikian mereka kelas bawah belum sepenuhnya merdeka...
Yuyud mengatakan…
Mampir lagi bung.
Bung Penho mengatakan…
cuman prihatian aza bro! sedih juga liatnya.
Bung Penho mengatakan…
betul sobat!. ketika orang selalu melihat keatas, pasti ia gak akan pernah bersyukur atas apa yg telah ia terima. selalu aza kurang!
Bung Penho mengatakan…
hehehee..! gue juga kadang bisa salah tulis!
Bung Penho mengatakan…
namun kalo untuk nafsu, gak ada kata merdeka sob.
Bung Penho mengatakan…
kadang memang sulit kawan. karna seorang pemimpin gak akan bekerja sendiri. mereka perlu pemimpin yang lain. maka dari itu seorang pemimpin juga harus bijak dalam menentukan mitra kerjanya.
Bung Penho mengatakan…
hehehehe..!
Bung Penho mengatakan…
Benar kang!. yang ada sekarang hanya kemerdekaan diatas kertas dengan grafik yg luar biasa bagus. tetapi dilapangan, 180 derajat perbedaannya
Bung Penho mengatakan…
benar... Mumpung jadi pejabat sekalian aza jadi penjahatnya. hehehe
Bung Penho mengatakan…
tapi paling tidak bisa dikurangi kawan. jangan ditambah lagi.
Penyuluh Perikanan mengatakan…
Berbicara soal kita sudah merdeka itu sebenarnya relatif kawan, karena kalau merdeka bebas tanpa ada aturan petunujuk juga akhirnya ngawur, yg penting kita sama^ belajar utk menghargai Hak azazi orang lain dengan pengetahuan yg baik...hehe. bukankah begitu sahabatku...??
Terima kasih
Drieant mengatakan…
ente yang nangis kali yud. heheheh. ente nangis karena ga ada tipi. hehehehe.
Drieant mengatakan…
ehm, kapan ya pemimpin kita mau ngeliat kebawah.ga perlu turun ke bawah, ngeliat aja kebawah dah seperti apa nasib nasib sodara kita. mungkin itu sedikit akan mengurangi rasa tamak di hati mereka dan menimbulkan empati. :D
Drieant mengatakan…
iya ya gan, dia jadi penolong sekaligus orang jahatnya, emang pandai bersandiwara mereka semua gan:D
Bung Penho mengatakan…
boleh jadi tuh! gkgkgkgkk
Bung Penho mengatakan…
tapi janji tinggal janji!
Bung Penho mengatakan…
di tive ada yg ngomong "saya setuju, kita babat para koruptor sampai ke akar2nya" ehhh... ternyata yg bicara ikutan kebabat juga!
Bung Penho mengatakan…
itulah yg sekarang terjadi, menjajah bangsanya sendiri!
Bung Penho mengatakan…
tapi kalo udah duduk di kursi empuk, malas banget berdiri, jalan2 dan berbincang-bincang dengan rakyatnya. sibuk ngurus v proyek
Bung Penho mengatakan…
hehhee..thank yud!
Bung Penho mengatakan…
kalo merdeka tanpa aturan bukan negara namanya! zaman koboy aza ada aturannya heheheee...
Yuyud mengatakan…
Mampir lagi. Nunggu postingan.
Meta Hanindita mengatakan…
Mampir juga, met kenal yaa:D
teknisi komputer mengatakan…
Tapi saya tetap bangga dengan para penguasa negeri ini. Mereka adalah para pejuang yang tangguh dan pemberani.
1. Berjuang keras untuk memakmurkan keluarga dan kroninya
2. Tangguh mengahadapi segala macam caci maki dari rakyatnya (tangguh membuang rasa malunya)
3. Berani merampok uang negara demi kekayaan pribadi dan kelompoknya
4. Berani melupakan jasa para pahlawan yang telah mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan
5. Berani tertawa terbahak-bahak disaat rakyat menangis dan menjerit

Nah, dimana lagi kita akan menemukan para penguasa negeri yang demikian hebatnya? Pisssssss
Bung Penho mengatakan…
wah, sangat membanggakan juga ya mempunyai penguasa negeri yang seperti ini! hebat banget tuh. wajib kita pilih lagi periode berikutnya gkgkgkgk..! mantap komentnya bro!
Fahmi Setiawan mengatakan…
so sad banget :( ...
koruptor udah kaya jamur di musim ujan malah makin banyak bukannya masih berkurang.
Bung Penho mengatakan…
udah bro, silahkan di check hehehhe..!
Bung Penho mengatakan…
makasih udah balik mampir di blog sederhana ini bu Dokter! hehehe